ANAMBAS, 3 SEPTEMBER 2026 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Anambas menggelar ibadah salat Istisqa berjamaah di Pelataran Astaka Masjid Agung Baitul Ma’mur pada Kamis (3/9/2026) mulai pukul 07.30 WIB. Langkah ini menjadi ikhtiar spiritual sekaligus bentuk keprihatinan mendalam atas kondisi kemarau panjang yang memicu krisis air bersih di wilayah Anambas.
Kegiatan doa bersama ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, S.E., beserta seluruh jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan warga setempat. Ibadah dipimpin oleh H. Ali Muhsin, S.Pd.I. selaku Imam dan Pajrul Haq, S.Ag., M.A. sebagai Khatib. Seluruh jamaah mengikuti rangkaian ibadah dengan khidmat seraya memanjatkan doa, istighfar, dan menggalang sedekah.
Kondisi Pasokan Air Masuk Kategori Darurat
Seusai pelaksanaan ibadah, H. Ali Muhsin mengonfirmasi bahwa krisis air baku di Kepulauan Anambas saat ini telah mencapai tingkat darurat. Penyusutan debit air yang drastis berdampak langsung pada terhentinya pasokan air bersih bagi kebutuhan harian masyarakat.
* Penyusutan Embung dan Sungai: Dua embung utama yang menjadi sumber air baku daerah mengalami penurunan volume yang amat krusial, sehingga aliran air melalui jaringan pipa ke rumah-rumah warga terhenti total. Beberapa aliran sungai dan objek air terjun Temburun dilaporkan mengering.
* Pendistribusian Darurat: Pemerintah daerah bekerja sama dengan BPBD, Dinas PU, Damkar, TNI, Polres Anambas, dan Kejaksaan dikerahkan untuk mendistribusikan air bersih menggunakan armada tangki dan toren ke pemukiman warga.
* Instruksi Serentak: Selain di tingkat kabupaten yang dipusatkan di Masjid Agung Baitul Ma’mur, imbauan pelaksanaan salat Istisqa juga diterapkan secara serentak di tingkat kecamatan hingga desa, termasuk di Kecamatan Jemaja.
Dampak Langsung pada Masyarakat
Gangguan krisis air ini dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kurun waktu satu hingga dua bulan terakhir. Basyir, salah seorang warga yang menghadiri salat Istisqa, mengungkapkan ketidakpastian aliran air PAM yang kerap hanya menyala pada jam-jam dini hari dengan durasi sangat terbatas.
> “Aliran air sempat keluar sekitar jam 01.00 dini hari, tetapi sebelum pukul 02.30 sudah mati kembali. Kondisi warga yang tinggal di dataran tinggi bahkan jauh lebih sulit mendapatkan air. Kami sangat terbantu dengan adanya pasokan bantuan air bersih dari Polres dan instansi terkait. Melalui salat Istisqa ini, kami berharap Allah segera menurunkan hujan dan rahmat-Nya agar bencana kekeringan ini cepat berlalu,” ujar Basyir.
>Melalui upaya fisik penanganan darurat air dan ikhtiar spiritual ini, Pemkab Kepulauan Anambas terus berkomitmen mengoptimalkan pasokan air darurat bagi seluruh lapisan masyarakat hingga krisis kekeringan dapat teratasi. (Slv)















