Simfoni Ketulusan Ady Indra Pawennari Bersama KJK Menjaga Taji dan Martabat Pers Oleh: Ridarman Bay (Wartawan Senior Kepri)

Minggu, 6 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Views: 608

Lancangkuningnews.con- Tiga puluh dua tahun melakoni profesi sebagai kuli tinta, saya pikir saya sudah kenyang melihat pasang surutnya organisasi pers. Baik di Kota Pekanbaru maupun di Kota Tanjungpinang, polanya kerap serupa dan berulang: riuh rendah saat ada momentum politik, lalu hening dan sunyi setelah pesta usai. Lambat laun, ruang redaksi yang dulunya hangat berubah menjadi dingin, dan idealisme sering kali terbentur oleh kerasnya realitas hidup.

 

Namun, skeptisisme yang bertahun-tahun membeku di dalam dada saya runtuh seketika ketika saya melihat Komunitas Jurnalis Kepri (KJK). Di Provinsi Kepulauan Riau, khususnya Tanjungpinang, paguyuban ini hadir bukan sebagai pajangan formalitas, melainkan menjadi rumah yang benar-benar teduh. Sebuah payung yang tulus melindungi, merangkul, dan membersamai langkah para jurnalis yang kerap kali berjuang sendirian di garis depan.

 

KJK tidak sekadar menumpang nama di atas kertas. Mereka berdiri tegak dengan harga diri, memiliki markas sendiri—sebuah gedung representatif yang tertata rapi bak instansi resmi.

 

Di dalamnya, denyut nadi perjuangan itu terasa nyata. Ruang kerja dan ruang rapat yang sejuk sengaja disediakan agar para anggotanya bisa mengetik berita dengan nyaman, tanpa harus kebingungan mencari tempat bernaung saat hujan atau terik menyengat.

 

Letaknya pun sangat strategis di pusat keramaian, berdampingan dengan kehangatan warung kopi dan aroma rumah makan ikan bakar yang selalu terbuka menjadi tempat melepas penat setelah seharian mengejar berita.

 

Apakah organisasi ini hanya sibuk memoles diri dan mengurus internal wartawan?

 

Ternyata tidak. Air mata dan rasa haru saya membuncah saat melihat bagaimana KJK justru kerap melebur dan meluruh bersama masyarakat lewat aksi-aksi nyata. Mereka hadir dalam tetesan darah yang didonorkan untuk nyawa yang sekarat, dalam peluh yang bercucuran saat membersihkan lingkungan pantai, hingga dalam tawa anak-anak yatim piatu saat menerima uluran sembako.

 

Bahkan saat memperingati Hari Pers Nasional, KJK memilih jalan yang sunyi namun mendalam: menanam mangrove demi masa depan bumi dan merajut kebersamaan dengan masyarakat lokal lewat lomba domino.

 

Di momen bulan Ramadhan, KJK aktif menggelar acara buka puasa bersama dan menyalurkan bingkisan lebaran kepada wartawan dan anak-anak panti asuhan. KJK telah melampaui batasnya, mereka tidak hanya menulis tentang kemanusiaan, mereka menjadi kemanusiaan itu sendiri.

 

Jika dipikir secara logis, urusan profesi wartawan sejatinya sudah diwadahi oleh organisasi pers arus utama seperti PWI atau AJI, begitu pula dengan perkumpulan perusahaan media seperti JMSI, SMSI, dan AMSI.

 

Namun, KJK tampaknya menolak untuk tinggal diam melihat mandeknya peningkatan kapasitas jurnalis di daerah—sebuah pengakuan atas kompetensi dan profesionalisme yang sangat didambakan, namun sering kali tak terjangkau oleh kantong para pekerja pers.

 

Gebrakannya sungguh membuat dada ini bergetar. Baru-baru ini, KJK sukses menggelar Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) dengan menggandeng Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) dari UPN Veteran Yogyakarta.

 

Langkah besar ini diambil demi mendongkrak mutu dan kehormatan pewarta di Kepri. Dan di sinilah letak ketulusan yang menguras emosi: seluruh biaya operasional ditanggung penuh oleh organisasi.

 

Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun. Gratis. Mereka bahkan difasilitasi dengan baju kaus cuma-cuma, hingga rekan panitia dari Batam pun disediakan transportasi dan akomodasi yang sangat layak.

 

Di tengah mahalnya biaya sertifikasi profesi saat ini—di mana seorang wartawan sering kali harus mengubur impian kompetensinya karena keterbatasan ekonomi—KJK hadir memberikan kemewahan itu secara cuma-cuma.

 

Prosesi pembukaannya pun berlangsung sempurna dan khidmat. Tidak ada kesan formalitas yang dipaksakan. MC dan pembaca doa dihadirkan dari kalangan profesional, memberikan rasa hormat yang tinggi pada profesi ini.

 

Bahkan, acara tersebut dihadiri oleh narasumber jenderal bintang dua, Irjen Pol Andry Wibowo dari Lemdiklat Polri. Sebuah pemandangan yang membuat siapapun yang hadir akan merasa bangga menjadi seorang jurnalis.

 

Pertanyaan besarnya: dari mana amunisi dana KJK berasal hingga mampu seberkelimpahan ini dalam memberi? Jawabannya bermuara pada satu sosok: Ady Indra Pawennari, sang Ketua Umum.

 

Di dunia luar, Ady dikenal sebagai pengusaha sukses yang menggurita di berbagai sektor—mulai dari perdagangan sabut kelapa, pertambangan, kontraktor, hingga budidaya karbon mangrove.

 

Posisinya di jagat usaha pun mentereng; ia menjabat sebagai Ketua Umum HIPKI, Wakomtap Kadin Indonesia, Wakil Ketua Umum Gapensi Kepri, serta menakhodai KKSS Kepri.

 

Namun, di balik jas necis seorang pebisnis besar, dada Ady sesungguhnya menyimpan jantung seorang jurnalis sejati yang telah aktif memegang pena sejak tahun 1996.

 

Lika-liku hitam-putih dan pahit-getirnya kehidupan pers sudah khatam ia jalani. Mulai dari kantor yang diobrak-abrik, dikeroyok preman bandar judi, hingga malam kelam saat rumahnya dilempar bom molotov ketika keluarganya sedang terlelap tidur.

 

Trauma dan ancaman maut itu tidak membuat hatinya menciut. Sebaliknya, peristiwa-peristiwa itu justru mengikat jiwanya selamanya dengan denyut kehidupan kuli tinta.

 

Itulah mengapa dalam kesehariannya, Ady justru lebih sering menghabiskan waktu, tertawa, dan bertukar pikiran di warung kopi bersama rekan-rekan wartawan ketimbang berkumpul di hotel mewah dengan sesama pengusaha.

 

Kepedulian Ady terhadap masa depan wartawan bukan lagi sekadar patut diacungi dua jempol, melainkan sebuah teladan yang langka. Sepanjang karier jurnalisme saya, belum pernah saya menemukan figur atau lembaga yang begitu intens, begitu tulus menyokong program pengembangan kapasitas wartawan secara mandiri seperti ini.

 

Memang ada pihak lain yang peduli, namun kontribusinya acap kali bersifat sporadis, sesaat, dan sering kali harus mengemis proposal ke pemerintah atau BUMN. KJK tidak demikian. Mereka memberi dari hati, dengan mandiri.

 

Lebih indahnya lagi, KJK tidak pernah memberi sekat. Mereka tidak peduli dari organisasi mana wartawan itu berasal. Di bawah atap KJK, semua adalah saudara satu pena. KJK adalah aset berharga bagi ekosistem pers di Kepri yang wajib kita jaga bersama dengan seluruh jiwa dan raga.

 

Sejarah mencatat bahwa gerilya pers di tanah Riau dan Kepri telah disulut api idealismenya oleh Raja Ali Kelana sejak tahun 1896. Kini, 130 tahun telah berlalu. Dan lewat wadah yang penuh cinta serta dedikasi seperti KJK, kita memiliki alasan kuat untuk menatap masa depan dengan kepala tegak.

 

Kita patut optimistis bahwa dunia kewartawanan di Kepulauan Riau tidak akan pernah mati, tidak sekadar bertahan untuk eksis, tetapi akan tetap berdiri mandiri, menjaga kehormatan, bertaji dan tetap bermartabat!

Penulis : ANTON

Editor : ANTON

Berita Terkait

Pasar Murah Polsek Jemaja Disambut Hangat, 500 Kg Beras SPHP Ludes
Dorong Tradisi Literasi, KJK Gelar Bedah Buku ‘Menjaga Nurani’ Karya Wartawan Senior di Kepri
Jumat Curhat di Letung, Polisi dan Warga Jemaja Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Kemarau Belum Usai, Polres Anambas Salurkan 20 Ton Air Bersih ke Warga dan Fasilitas Publik
DPD PJS Kepri Siapkan Aksi Sosial Jelang Rakernas Pertama DPP di Batam
Kejari Anambas Lantik Pejabat Baru, Kajari Tekankan Integritas dan Penuntasan Perkara
Atasi Dampak Kemarau, Pemkab Anambas Gelar Salat Istisqa Bersama Warga
Korban Melahirkan, Kasus Dugaan Persetubuhan Anak di Bawah Umur di Anambas Terungkap

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 13:48 WIB

Simfoni Ketulusan Ady Indra Pawennari Bersama KJK Menjaga Taji dan Martabat Pers Oleh: Ridarman Bay (Wartawan Senior Kepri)

Sabtu, 5 September 2026 - 22:42 WIB

Pasar Murah Polsek Jemaja Disambut Hangat, 500 Kg Beras SPHP Ludes

Sabtu, 5 September 2026 - 09:38 WIB

Dorong Tradisi Literasi, KJK Gelar Bedah Buku ‘Menjaga Nurani’ Karya Wartawan Senior di Kepri

Jumat, 4 September 2026 - 22:39 WIB

Jumat Curhat di Letung, Polisi dan Warga Jemaja Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Jumat, 4 September 2026 - 18:04 WIB

Kemarau Belum Usai, Polres Anambas Salurkan 20 Ton Air Bersih ke Warga dan Fasilitas Publik

Berita Terbaru

error: Content is protected !!