BATAM – Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Ruslan Sinaga, menyoroti kembali persoalan banjir yang terjadi di sejumlah titik wilayah Bengkong. Hujan deras yang mengguyur Kota Batam menyebabkan genangan hingga menyeret sejumlah kendaraan bermotor. (23/9/2026)
Ruslan mengatakan, persoalan banjir di Bengkong bukan merupakan kejadian baru. Sejumlah titik rawan banjir sebelumnya telah ditinjau bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan telah disampaikan agar segera mendapatkan penanganan.
Menurutnya, pihaknya bersama sejumlah OPD, di antaranya BPBD dan Dinas Bina Marga, telah melakukan survei langsung ke lokasi. Hasil peninjauan tersebut juga telah didokumentasikan sebagai bahan tindak lanjut.
“Saya sudah sampaikan kepada OPD-OPD dan kami sudah survei. Saya juga sudah meminta agar benar-benar direalisasikan. Jangan sampai saat musim hujan, rumah warga justru tenggelam,” ujar Rusllan.
Ia menegaskan, Bengkong merupakan salah satu wilayah yang dinilai rentan terhadap banjir sehingga membutuhkan perhatian dalam perencanaan maupun penganggaran pemerintah daerah.
Ruslan menyebut, persoalan sejumlah titik rawan banjir tersebut telah disampaikan kepada OPD terkait sejak 2024 dan kembali dikawal pada 2025. Ia juga telah meminta agar penanganannya dapat dimasukkan dalam penganggaran.
“Sudah saya sampaikan ke semua, bahkan saya telepon langsung. Saya ingatkan, tolong di APBD Perubahan ini dianggarkan supaya bisa diatasi,” katanya.
Namun, Ruslan mengaku masih menemukan sejumlah hasil peninjauan lapangan yang belum sepenuhnya ditindaklanjuti. Menurutnya, survei lapangan tidak seharusnya berhenti pada pengambilan dokumentasi, tetapi perlu dilanjutkan dengan pekerjaan konkret.
Ia menyebut terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu segera ditangani, mulai dari normalisasi saluran, pembangunan batu miring hingga kondisi jembatan yang dinilai terlalu pendek. Selain itu, terdapat fondasi jembatan yang mulai mengalami kerusakan.
“RT dan RW yang juga mengetahui kondisi di lapangan meminta normalisasi, ada batu miring, dan ada jembatan yang terlalu pendek. Fondasinya juga sudah mulai hancur,” jelasnya.
Ruslan mengaku telah meminta Dinas Bina Marga dan OPD terkait untuk menganggarkan penanganan sejumlah persoalan tersebut.
Ia juga meminta agar persoalan banjir di Bengkong menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan APBD. Menurutnya, penanganan titik rawan banjir perlu menjadi prioritas, terutama pada lokasi yang sudah diketahui memiliki persoalan teknis dan berpotensi berdampak terhadap masyarakat.
“Memang ada OPD yang mengatakan akan dianggarkan tahun depan. Sesungguhnya jangan kita menunggu tahun depan. Ini harus lebih diprioritaskan,” ujarnya.
Ruslan menambahkan, persoalan kerawanan banjir di Bengkong juga telah disampaikannya dalam rapat paripurna DPRD Batam.
“Di rapat paripurna juga saya sudah ingatkan, tolong diperhatikan Bengkong karena Bengkong itu rentan banjir. Jangan hanya mengatakan iya, tetapi pelaksanaannya tidak ada,” katanya.
Ia berharap evaluasi terhadap titik-titik rawan banjir dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan OPD, RT/RW dan masyarakat. Dengan demikian, penanganan yang dilakukan pemerintah dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
“Yang saya mau sampaikan, jangan jadikan peninjauan ke lapangan hanya sebagai dokumentasi. Tetapi lakukan, kerjakan dan atasi,” pungkasnya. (Bd)















