Anambas, Lancangkuningnews.com – Kelurahan Tarempa melaksanakan kegiatan Gotong Royong (Goro) Jumat Berlian dengan berkolaborasi bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Anambas, Jumat (24/10/2025).
Kegiatan yang berpusat di kawasan Monument Bom Jepang, Kampung Baru, Kelurahan Tarempa ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pejabat dinas terkait, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar. Mereka bergotong royong membersihkan area monument dari sampah dan tanaman liar untuk menjaga kebersihan serta melestarikan situs bersejarah tersebut.
Lurah Tarempa Syamsir, S.Ap, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Selain itu, kami ingin menjadikan kegiatan ini sebagai contoh bagi masyarakat lainnya untuk turut peduli dan melestarikan situs bersejarah di Anambas,” ujarnya.
Monumen Bom Jepang di Kampung Baru sendiri merupakan Situs Bersejarah Penting yang menjadi saksi peristiwa pengeboman oleh tentara Jepang pada 14 Desember 1941. Saat itu, tiga bom dijatuhkan di kawasan Tarempa — di dekat lokasi Hotel Tarempa Beach saat ini, di Masjid Jami’, dan di sekitar Gereja Kampung Baru Atas.
Menurut catatan sejarah, pengeboman tersebut menewaskan sekitar 300 jiwa dan menghancurkan dua pertiga wilayah Kota Tarempa. Data ini tertulis dalam karya almarhum Moehammad Taib dalam buku “Ilmu Bumi Kepulauan Riau” , serta diperkuat oleh catatan Mohammad Dun Umar, BA dalam buku “Untaian Sejarah Masjid Jamik Baiturrahim Tarempa”, yang menyebutkan sebanyak 40 orang terkena pecahan bom dan 150 rumah penduduk hangus terbakar.
Menariknya, Monument ini dibangun untuk mengenang para korban tanpa membedakan suku maupun agama. Menurut keterangan warga, tulang belulang korban dari berbagai latar belakang — Melayu, Tionghoa, maupun Kristen — dikumpulkan dan dikuburkan bersama di tempat tersebut.
Hingga kini, masyarakat Tionghoa Tarempa setiap tanggal 26 bulan 10 kalender Tionghoa rutin mengadakan peringatan arwah korban di monumen tersebut.
Selain sebagai bentuk kepedulian lingkungan, kegiatan Goro Jumat Berlian kali ini juga menjadi momen untuk menghormati sejarah dan mengenang para korban tragedi kemanusiaan akibat perang di masa lampau.
“Dengan menjaga kebersihan dan kelestarian monumen, kita bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menghargai sejarah dan perjuangan masyarakat terdahulu,” tambah Syamsir.
Kegiatan Goro Jumat Berlian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi agenda rutin sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan nilai sejarah di Kepulauan Anambas. (Fn)















